Sang Pendamping

Akhirnya, alam bawah sadar mengirimkan sinyal juga. Rasa tidak nyaman itu menyelusup, lalu naik menjalar ke mata dan membuatnya berkaca-kaca.

Setelah beberapa hari menjalani kegiatan yang sangat padat, lalu di sekolah, setelah beberapa lama adem ayem, tiga hari ini mulai bergejolak lagi. Gadis yang saya dampingi harus berusaha belajar lebih banyak lagi untuk bisa bersikap bodo amat dengan sikap dan tingkah laku dari beberapa temannya di kelas.

Saya biasa memanggilnya Mbak. Ia anak yang baik, sopan, juga cantik. Namun, di balik semua itu, ia memiliki kesulitan untuk bersosialisasi.

Ia tidak tidak tahu bagaimana mengungkapkan perasaan-perasaannya secara verbal dengan baik. Ia tidak tahu bagaimana harus bersikap cuek dengan sikap dan ucapan teman-temannya. Ia hanya bisa merasakan rasa khawatir yang sangat ketika semuanya terasa tidak nyaman.

Beberapa teman tidak memahami kondisinya walaupun wali kelas, BK, juga saya sudah menjelaskan apa yang Mbak hadapi. Apa yang kami jelaskan tidak pernah menjadi sebuah pelajaran yang bisa mereka terima. Mereka hanya merasa bahwa Mbak dispesialkan dan mereka merasa iri akan akan hal itu.

Oleh karena rasa iri ini, mereka berusaha ‘mengusik’ ketenangan Mbak.

Sebagai pendamping sekaligus mentor Mbak, saya harus terus membimbing Mbak bagaimana cara menghadapi dan menyelesaikan masalah yang ia hadapi. Selain itu, saya menjadi “jembatan” antara Mbak dan teman-temannya sehingga secara otomatis ketika ada masalah, saya menyerap semua emosi negatif baik dari teman-temannya juga dari Mbak sendiri.

Hari ini, emosi-emosi tersebut sepertinya sudah terserap begitu banyak. Hampir penuh atau bahkan memang sudah penuh sehingga alam bawah sadar saya mulai memberikan sinyal agar saya bisa segera membuangnya. Dan sinyal ini datang dengan tiba-tiba di UKS, setelah beberapa hari ini juga hari ini, saya menyerap emosi negatif dari kelas.

Mbak baik-baik saja. Saya senang dia mendengarkan semua panduan dan nasihat-nasihat saya, tetapi jauh di dalam hati, saat ini, saya benar-benar merindukan sebuah pelukan erat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *