Kenangan Bersama Ummi dan Aa

Guru mengaji saya, Ummi dan Aa, rumahnya bersampingan dengan masjid. Anak perempuan belajar mengaji dengan Ummi di rumah, sedangkan anak laki-laki belajar dengan Aa di masjid.

Satu minggu dua kali, anak perempuan dan laki-laki belajar tajwid bersama. Agar terhubung, Aa memasang speaker kecil di rumah sehingga ketika Aa memberi penjelasan materi dari masjid, anak perempuan bisa mendengar dengan jelas dari rumah.

Materi mengenai tajwid ini adalah pelajaran yang paling kami tunggu-tunggu. Setiap kali pelajaran tajwid dimulai, kami selalu bersemangat menyimak. Anak laki-laki dan perempuan berlomba-lomba menjawab pertanyaan yang dilontarkan Aa. Kemudian bersorak gembira ketika kami, tim perempuan, yang menjawab pertanyaan dengan benar. Begitu pun sebaliknya. 




Aa dan Ummi sangat sabar menghadapi dan mengajari kami, dan kami sangat menghormati mereka berdua. Panggilan Aa sebetulnya adalah panggilan hormat Ummi kepada suaminya dan Ummi membiasakan kami memanggil suaminya dengan panggilan yang sama. Saya tidak ingat alasannya apa.

Baca juga: Catatan Penyunting Pemula

Umur Ummi dan Aa saat itu mungkin sudah kepala tiga, bahkan Aa mungkin sudah lebih, tetapi kami tidak pernah memanggil guru mengaji laki-laki kami dengan panggilan lain selain Aa.

Kurang lebih tiga tahun, saya belajar mengaji kepada Ummi dan Aa, karena saat saya menginjak kelas 6 SD, Ummi dan Aa ternyata memutuskan pindah rumah ke tempat yang jauh. 

Tentu saja saya merasa kehilangan. Karena selain tempat belajar mengaji, rumah Ummi adalah tempat saya bermain. Hampir setiap hari saya dan anak-anak serta keponakan Ummi bermain di teras depan rumahnya. Bermain karet, bermain gambar, congklat, atau bermain gempar—permainan tradisional yang menggunakan banyak batu kerikil. Bahkan, bekas kolam ikan di depan rumahnya pun jadi sasaran tempat kami bermain kelereng.

Setelah Ummi dan Aa pindah, lingkungan tempat tinggal saya menjadi sepi.  Saya dan teman-teman yang waktu itu mengaji sama-sama di rumah Ummi, akhirnya mencari tempat mengaji msing-masing. Sebagian memilih mengaji di rumah, sebagian memilih mengaji di tempat yang lebih dekat dengan rumahnya. 

Setelah itu, Tidak ada lagi anak-anak yang berlari-larian di sekitar rumah Ummi, tidak ada lagi anak-anak yang berkumpul saat magrib untuk mengaji. Tidak ada lagi yang mengajak salat berjamaah. Tidak terdengar lagi sahut-sahutan anak-anak di speaker belajar tajwid. Apa yang paling terasa adalah tidak ada lagi keseruan saat sebelum dan sesudah salat Tarawih di bulan Ramadan—keseruan yang sering saya rindukan.

Minggu ini, di group komunitas menulis, sang founder berinisiatif mengadakan pengajian bersama untuk menyambut bulan puasa. Kami mengagendakan untuk membaca Al-Qur’an, One Mommy One Juz. Tadi malam, group dibuka dengan materi tentang tajwid, ilmu mengaji yang lama tidak saya pelajari lagi selain hanya ketika anak-anak ada PR mengenai tajwid dari sekolahan. 




Saat menyimak group dan menjawab pertanyaan-pertanyaan mengenai izhar dan idgom dari pemateri, tidak ada ingatan lain kecuali ingatan saat belajar bersama Ummi dan Aa. Sayangnya, Ummi dan Aa saat ini sudah pindah ke tempat yang lebih jauh. Tempat di mana tidak bisa menerima panggilan telepon untuk menyapa. Tempat yang lebih kecil dibandingkan rumahnya yang dulu dipakai tempat kami mengaji. Tempat yang bahkan sangat kecil selain hanya cukup untuk tubuh Ummi dan Aa sendiri.

Namun, insyaallah tempat tinggal terakhir Ummi dan Aa ini akan menjadi luas, lebih luas,  bahkan sangat luas dibandingkan rumah-rumah Ummi sebelumnya. Kebaikan-kebaikan Ummi dan Aa akan selalu melekat dalam ingatan serta ilmu-ilmu yang sudah Ummi dan Aa ajarkan akan menjadi amal jariyah yang tidak terputus bagi keduanya. Alfatihah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *