Menikmati Senja di Jembatan Ampera

Beberapa waktu lalu, ketika di rumah mati lampu, saya iseng ngajakin paksu ke jembatan Ampera. Saya pikir, daripada bosan menunggu lampu menyala–yang biasanya lama—lebih baik saya ke luar untuk mencari udara segar. Jarak dari rumah ke jembatan Ampera kebetulan tidak jauh, jadi sore itu meluncurlah kami ke sana.

Menikmati senja di Jembatan Ampera
Ampera di sore hari

Seperti yang mungkin kamu sudah ketahui, Jembatan Ampera ini sudah menjadi ikon Kota Palembang dan  menjadi kebanggaan masyarakat. Jembatan Ampera  sendiri dibangun pada tahun 1962 dengan tenaga ahli yang berasal dari Jepang. Tidak hanya tenaga ahli, tetapi dana pembangunannya pun diambil dari pampasan perang Jepang. FYI,  Pampasan Perang adalah pembayaran yang secara paksa ditarik oleh negeri pemenang perang kepada negeri yang kalah perang sebagai ganti atas kerugian material, ya, dears.

Beberapa sumber menyebutkan dana tersebut sekitar 2,5 Milyar Yen atau kalau dirupiahkan saat ini mencapai berapa, ya?  1 Yen Jepang hari ini sama dengan 140,02 rupiah, nah silakan ambil kalkulator dan hitung sendiri kalo kamu penasaran, hihi.

Menikmati senja di Jembatan Ampera
Jembatan Ampera dari dekat

Panjang Jembatan Ampera 1,117 meter dan lebar 22 meter serta tinggi  11,5 di atas permukaan air, sedangkan tinggi menara mencapai 63 m dari tanah. Antar menara memiliki jarak sekitar 75 meter dan berat jembatan berkisar 944 ton.

By the way, setiap kali kami melewati jembatan ini, paksu dengan bangganya bercerita, “Awalnya jembatan ini bisa dinaikturunkan, Dek. Jadi, kapal-kapal besar bisa berlayar dari Seberang Ulu ke Seberang Ilir melewati Musi.”

Saya hanya menyimak dengan takjub.  Saya membayangkan, betapa luar biasanya dulu ketika jembatan ini dinaikturunkan untuk memberi jalan kepada kapal-kapal besar dari Seberang Ulu yang hendak menuju Seberang Ilir atau pun sebaliknya. Mungkin masyarakat pada saat itu dapat menyaksiksan kapal besar lewat, seperti saat ini kita menyaksikan kereta lewat dari palang jaga, hihi.

Source: kutahu-kamutahu.blogspot.com

Namun sayangnya, sejak tahun 1970, mekanisme turun naik jembatan tidak lagi dilakukan karena dianggap mengganggu arus lalu lintas. Pada saat itu, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini membutuhkan waktu sekitar 30 menit. memang lumayan pegel juga, sih, ya, kalau kita mau menyebarang jalan harus menunggu selama 30 menit. Itu baru waktu untuk menaikan, belum menurunkannya, bisa kurang lebih satu jam nunggu di jembatan. Bisa-bisa banyak yang memilih berenang untuk nyeberang karena pengen buru-buru sampai ke tujuan, hihi.

Tapi selain karena alasan lalu lintas, alasan yang menjadi pertimbangan penting adalah karena pada tahun itu, sudah tidak ada lagi kapal besar yang menyeberang di Sungai Musi. Jadi, make sense juga, ya, kalau enggak ada yang bolak-balik nyebrang kenapa juga harus dinaikturunkan.

Hmm, saya jadi mikir juga, pada tahun 1970, paksu juga belum lahir, berarti paksu juga belum pernah melihat jembatan Ampera dinaikturunkan, blio hanya mendapatkan cerita dari orang-orang atau dari Nyai atau Yai yang memang senang berkisah 😀

 

Semenjak saya tinggal di kota yang berada di ujung selatan pulau Sumatera ini,  saya sering melewati jembatan ini dan pernah beberapa kali juga melihat kapal tongkang yang membawa banyak batu bara melewati jembatan Ampera. Saya tidak pernah melihat kapal tongkang sebelumnya, baik dari dekat ataupun dari kejauhan. Jadi, hal tersebut menambah kekaguman saya pada pemandangan yang saya di lihat di Jembatan Ampera.

Baca juga: Wisata Alam Punti Kayu, Hutan Pinus Dalam Kota Terbesar di Indonesia

Memandang Sungai Musi dari jembatan, masyaallah indah banget. Sungai terhampar luas, perahu-perahu kecil berlayar di tengah, memandang ke ujung, terdapat jembatan Musi dua yang terlihat kecil melengkung dari kejauhan.

Menikmati senja di Jembatan Ampera
Sungai Musi dilihat dari Jembatan Ampera

Di ujung sekali, awan jingga terlihat berarak langit seolah menyatu dengan ujung sungai.

Pokoknya, kalau kamu datang ke kota ini, jangan hanya menikmati mpek-mpeknya saja, tetapi singgah sejenak untuk melihat lebih dekat jembatan Ampera dan keindahan Sungai Musi.

Pada saat sore hari, terutama saat cuaca cerah, banyak anak-anak muda, Wong Kito yang menghabiskan waktu, duduk-duduk menikmati senja di sekitar jembatan. Tak jauh dari jembatan terdapat taman yang dipenuhi pohon palem dan lampu-lampu taman yang berwarna-warni. Tak jauh dari taman, banyak pedagang menjajakan makanan serta barang-barang seperti baju, sepatu, dan lain-lain.

Kalau kamu dari bandara Sultan Mahmud Badarudin, mau langsung ke Jembatan Ampera, gampang, kok, dari bandara kamu tinggak naik KRL langsung turun di stasiun Jembatan Ampera. Harga tiket KRL hanya Rp5000,00. Jembatan Ampera ini berada di kawasan Pasar 16, di sana kamu bisa sekalian berburu makanan khas Palembang, mpek-mpek. Banyak mpek-mpek enak di sini secara yang masaknya Wong Kito asli, yekan.

Jadi, kapan kamu mau menikmati senja di sini?

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *