Book Review, Little Notes to My Son

Judul Buku: Little Notes to My Son

Penulis: Brita Rahaminta

Penerbit: Makmood Publishing

Tahun Terbit: November 2019

Cetakan: 1, November 2019

Jumlah Halaman: 146 Halaman

Ukuran Buku: 14x20cm

ISBN: 98-623-91820-5-2

Anak bagaikan permata dalam kehidupan, penyejuk mata orang tua saat keletihan menyapa serta sebagai pelengkap kebahagiaan keluarga. Oleh karena itu, tak heran bila kehadiran mereka begitu sangat didamba.

Sekian lama mengarungi bahtera rumah tangga, tetapi sang buah hati belum juga hadir di tengah-tengah keluarga tentu membuat pasangan suami-istri cemas dan gelisah. Biasanya, dalam hal seperti ini, istrilah yang merasakan kecemasan yang luar biasa.

Kecemasan tersebut bertambah ketika sang istri melihat saudara, teman atau kerabat yang baru beberapa bulan menikah sudah mendapatkan tanda-tanda akan hadirnya momongan di keluarga mereka. Untuk menghilangkan kecemasan tersebut, berbagai cara dilakukan termasuk salah satunya mengalihkan fokus kepada hal-hal lain yang lebih bermakna.

Begitu pun yang dilakukan oleh Brita Rahaminta, seorang istri yang bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit pemerintah di Kota Surakarta. Alih-alih terus tenggelam dalam kecemasan, ia menamkan prasangka-prasangka baik dan menuangkan kecemasan akan keinginannya untuk menimang buah hati tersebut ke dalam sebuah memoar.  

Memoar dengan tebal 146 halaman ini dibagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama tentang cinta dan harapan, bagian kedua tentang saling menghargai, dan bagian ketiga tentang menjadi diri sendiri. Pada setiap bagian, Rahaminta menulis beberapa cerita tentang pengalaman hidupnya dan cerita tersebut ia tujukan kepada calon buah hatinya. Ia berharap, kelak, anaknya dapat mengambil hikmah di balik cerita-cerita yang ia tuliskan tersebut.

Bee—begitu penulis ini disapa— mengawali ceritanya dengan judul Absence Makes the Heart Founder. Dalam Judul yang diambil dari kutipan seorang penyair terkemuka ini, ia mengungkapkan kerinduan akan kehadiran Haidar—nama untuk calon buah hatinya kelak.

Dalam paragraf terakhir ia mengungkapkan, “Suatu malam Ibu dan Abah membahas tentang filosofi Absence makes the heart grow fonder. Meski rasa itu tidak berlaku pada Ibu dan Abah, tetapi kami sepakat bahwa rasa itu berlaku untukmu. Ketiadaanmu di antara kami saat ini membuat hati kami semakin penuh cinta. Merindukanmu, mencintaimu, meski bahkan kita belum pernah bertemu dan tak tahu kapan akan bertemu. Kamu, ya, Kamu. Ketiadaanmu yang mebuat Ibu dan Abah makin cinta dan merindu. (hal 6)

Bee juga mengungkapkan kekecewaannya terhadap kenyataan bahwa setelah menikah selama tiga tahun, ia tidak juga dikarunia buah hati dalam catatannya berjudul Trust  the Timing of Your Life. Kesedihan Bee bertambah ketika ia mendengar kabar kehamilan saudara iparnya dalam usia pernikahan yang belum genap satu tahun.

 Namun, di akhir catatan ia menyampaikan kepada calon buah hatinya bahwa ia menyadari setiap orang memiliki garis waktunya masing-masing. “Semua beredar pada garis yang dikendaki Allah. Oleh karena itu, tidak perlu merisaukan perbedaan antara waktu milik kita dengan milik orang lain. Fokus dan yakin saja segala sesuatu akan tepat pada waktu kita sendiri.” (hal 45)

Dalam bab saling menghargai, Bee mengungkapkan tentang kekesalannya pada orang yang suka membuang sampah sembarang. Kisahnya diawali ketika Bee melihat papan peringatan untuk tidak membuang sampah sembarangan diabaikan.

Puncak kekesalan Bee pada mereka yang membuang sampah sembarangan bertambah ketika ia meyaksikan orang berpendidikan—yang seharusnya memberikan contoh yang baik—ternyata diam-diam ikut membuang sampah bukan pada tempatnya.

Ia menceritakan kepada calon buah hatinya bahwa bukan masalah kepintaran atau latar belakang pendidikan yang membuat orang peduli akan kebersihan lingkungan, tetapi masalah kesadaran dan kepedulian.

“Nak, alim dan zalim hanya berbeda pada keberadaan huruf z. Menjadi yang mana, itu terserah kita. Satu yang perlu diingat adalah kita tidak hidup sendiri di bumi ini. Kita semua saling berbagi bumi bersama orang lain, bahkan bersama generasi lain  setelah kita. Maka, hiduplah secara baik dengan mempertimbangkan kebaikan bagi orang lain pula. (hal 111)

Memoar ini berisi 34 kisah syarat hikmah. Kelebihan memoar ini, walaupun catatan-catatannya ditujukan untuk calon buah hati penulis kelak, tetapi pesan yang terkandung di dalam cerita dapat menjadi renungan bagi siapa pun pembacanya.

 Judul-judul dalam buku setebal 164 halaman ini diambil dari kutipan-kutipan terkenal berbahasa Inggris.  Hal tersebut sangat menarik karena penulis dapat mengambil benang merah antara kisah hidupnya dengan kutipan-kutipan tersebut.

Dalam beberapa judul, pengertian kutipan tidak tersurat, tetapi pembaca bisa menyimpulkan dari alur dan hikmah yang terkandung pada bagian akhir cerita. Satu yang menjadi kekurangan buku ini adalah sampul bukunya yang tipis sehingga ketika buku tergeletak sampul buku cenderung terangkat ke atas. Namun, hal tersebut tidak mengurangi kualitas dari isi buku. Sebagai kesimpulan, buku Little Notes to My Son recommended untuk dibaca.